PR Perjaka 24 Tahun Nikahi Janda 67 Tahun - DESA SUKALUYU

728x90 AdSpace

Latest News
Desa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu Terletak di Jl. Bojongsari No. 1 Desa Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa barat, Dengan Jumlah RT 35 dan 8 RW, 4 Dusun , Jumlah Penduduk 8.896 Orang Terdiri dari 4.324 Orang Perempuan 4.572 Orang Laki laki Dengan Jumlah Kepala Keluarga 3.121 KK, Luas Wilayah 619.98 Km2 Kondisi Geografis Persawahan Desa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu Terletak di Jl. Bojongsari No. 1 Desa Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa barat, Dengan Jumlah RT 35 dan 8 RW, 4 Dusun , Jumlah Penduduk 8.896 Orang Terdiri dari 4.324 Orang Perempuan 4.572 Orang Laki laki Dengan Jumlah Kepala Keluarga 3.121 KK, Luas Wilayah 619.98 Km2 Kondisi Geografis PersawahanDesa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu Terletak di Jl. Bojongsari No. 1 Desa Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa barat, Dengan Jumlah RT 35 dan 8 RW, 4 Dusun , Jumlah Penduduk 8.896 Orang Terdiri dari 4.324 Orang Perempuan 4.572 Orang Laki laki Dengan Jumlah Kepala Keluarga 3.121 KK, Luas Wilayah 619.98 Km2 Kondisi Geografis PersawahanDesa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu Terletak di Jl. Bojongsari No. 1 Desa Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa barat, Dengan Jumlah RT 35 dan 8 RW, 4 Dusun , Jumlah Penduduk 8.896 Orang Terdiri dari 4.324 Orang Perempuan 4.572 Orang Laki laki Dengan Jumlah Kepala Keluarga 3.121 KK, Luas Wilayah 619.98 Km2 Kondisi Geografis PersawahanDesa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu Terletak di Jl. Bojongsari No. 1 Desa Sukaluyu Kabupaten Cianjur Jawa barat, Dengan Jumlah RT 35 dan 8 RW, 4 Dusun , Jumlah Penduduk 8.896 Orang Terdiri dari 4.324 Orang Perempuan 4.572 Orang Laki laki Dengan Jumlah Kepala Keluarga 3.121 KK, Luas Wilayah 619.98 Km2 Kondisi Geografis Persawahan
Saturday, March 25, 2017

Perjaka 24 Tahun Nikahi Janda 67 Tahun


pasutri Rokim Tampi

Ono-Ono Wae (OOW) adalah rubrik khas infogunungkidul.com, disajikan dengan gaya bahasa berbeda, unik, nyleneh dan kocak. Cerita terjadi dari seantero Indonesia, dikutip dari berbagai media massa. Nama penokohan dalam alur cerita semua bukan nama sebenarnya.
Ketika cinta sudah melekat, tahi kucing berasa coklat. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kemesraan pasangan suami istri Rokim 24, dan Tampi 67, warga Padukuhan Petung, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini.
Jika duda tua menikahi gadis muda, itu sudah umum. Apalagi jika hartanya banyak dan seabrek warisan yang menjanjikan masa depan. Tetapi bagaimana ceritanya jika seorang perjaka ting-ting menikahi janda yang usianya bahkan lebih tua dari ibunya ? Inilah kisahnya.
Pernikahan Rokim, pemuda kelahiran Nganjuk, 10 Juli 1993, itu memang tak biasa, sangat njomplang pokoknya. Sebab, mempelai perempuannya adalah Tampi, janda kelahiran Madiun, 18 Januari 1950. Usia mereka terpaut sangat jauh, 43 tahun.  Namun, perbedaan usia tak mengurangi kemesraan pengantin baru ini.
Seperti di kutip Radar Madiun (Jawa Pos Group/JPNN) mereka berdua menikah Rabu, 15/03/2017. Jika ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama, Rokim adalah salah satunya. Pria asal Nganjuk itu mengaku menaruh hati kepada Tampi sejak kali pertama bertemu sepuluh tahun silam.
Awal perkenalannya, dia hanya bermain ke rumah teman sesama pekerja bangunan di Surabaya yang kebetulan satu desa dengan Tampi yang berprofesi sebagai tukang pijat.  Untuk meredakan lelah, Rokim diantar oleh temannya ke rumah Tampi yang kala itu masih berusia 57 tahun.
”Pertama kali bertemu langsung suka. Yang ada di pikiran saya, suatu saat akan saya nikahi dia,’’ tutur dia kepada wartawan. Setelah dipijat, layaknya ABG yang sedang PDKT (alias pendekatan), Rokim dan Tampi bertukar nomor handphone.
Dari situ, benih-benih cinta mulai tumbuh. SMS dan telepon menjadi penyubur benih-benih cinta itu. Rokim mengaku bahwa dirinyalah yang lebih sering menelepon Tampi. Rasa lelah setelah seharian bekerja keras sebagai kuli bangunan pun langsung sirna saat mendengar suara pujaan hatinya. Setiap kali pulang kampung ke Nganjuk, Rokim tak lupa mengunjungi Tampi di Madiun. Buah manggis, apel, dan salak kesukaan Tampi menjadi oleh-oleh wajib yang dia bawa.
Rokim juga mengatakan bahwa Tampi adalah cinta pertamanya. Seumur hidupnya, Rokim memang belum pernah berpacaran dengan perempuan lain. Karena itu, omongan sinis dan olok-olok sebagian teman tentang pacar tuanya tak dihiraukan oleh Rokim.
”Mau bagaimana lagi, wong sudah cinta,’’ ujarnya dengan mantap.
Layaknya dua insan yang dimabuk cinta, Rokim juga pernah mengajak Tampi berjalan-jalan sambil pacaran. Kebun Binatang Surabaya dan Taman Bungkul di Kota Pahlawan menjadi dua lokasi favorit mereka. Kenangan indah itu kian memupuk cinta keduanya.
Namun, meski sudah lama kenal dan jatuh hati, Rokim baru benar-benar memberanikan diri meminang Tampi belakangan ini. Awalnya, Tampi menganggap pinangan itu sebagai lelucon dan tak serius menanggapinya. Tapi, Rokim tak patah arang. Bagai pejuang cinta sejati, dia terus meyakinkan Tampi agar bersedia menerima pinangannya.

Rokim Tampi tunjukkan surat nikah

Rokim sejak awal menyadari bahwa perbedaan usia keduanya bisa menjadi penghalang. Bahkan, ibunya pun lebih muda daripada Tampi. Rokim juga mengakui bahwa penampilan Tampi tak semenarik gadis-gadis muda lain yang ditemuinya di Surabaya atau Nganjuk, tempat asalnya. Menurut Rokim, setiap kali melihat Tampi, dirinya seolah menemukan kasih sayang yang selama ini hanya didapat dari ibunya.
Dia memang sangat dekat dengan ibunya, seorang janda yang telah berjuang keras membesarkan lima anak. Demikian pula Tampi. Sejak ditinggal wafat suami pertamanya, dia harus bekerja sebagai tukang pijat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berhasil meyakinkan Tampi rupanya baru langkah awal. Rokim harus melalui perjalanan panjang untuk meyakinkan ibu dan kakak-kakaknya agar bersedia menerima Tampi.
Sebab, sang ibu harus rela menerima menantu perempuan yang lebih tua daripada dirinya. Juga, kakak-kakak Rokim mendapatkan ipar yang sudah seusia nenek-nenek. Bukan hanya itu, Rokim juga harus berjuang untuk meyakinkan keluarga Tampi bahwa niatnya tulus karena cinta.  Seharusnya, pesta pernikahan Rokim dan Tampi digelar kemarin, Selasa, 21/03/2017. Namun, setelah berhitung dengan penanggalan Jawa, Selasa Kliwon dinilai bukan hari baik lantaran bertepatan dengan pasaran meninggalnya ayah Rokim. Alhasil, tanggal pernikahan dimajukan menjadi 15 Maret lalu.
Setelah menikah, Rokim tidak lagi bekerja di Surabaya. Dia kini hidup serumah dengan Tampi di Petung. Pekerjaan serabutan siap dia lakoni. Mulai mencangkul hingga mencari rumput. Sementara itu, Tampi yang lebih jarang bicara mengaku sempat menolak pinangan Rokim lantaran menyadari bahwa dirinya bukan janda kaya.
Rumah yang ditinggali selama ini pun sangat sederhana. Belum lagi, mustahil seorang perjaka mempersunting janda lanjut usia. Namun, Rokim terus mendesak tanpa lelah. Meski sempat menolak, keluarga Tampi akhirnya merestui juga.
Selama ini Tampi memang hidup seorang diri karena tidak memiliki anak dari pernikahan pertamanya. Tampi menuturkan, acara pernikahannya dengan Rokim sangatlah sederhana. Hanya ijab kabul dan kenduri kecil. Tidak ada tetangga yang diundang. Namun, mereka berdatangan untuk mengucapkan selamat. Maskawinnya pun cukup uang tunai Rp 50 ribu.
Lantas, apa panggilan sayang keduanya. Rupanya bukan Ayah-Bunda, bukan pula Papa-Mama.
Rokim punya panggilan tersendiri untuk Tampi tercinta. Dia memanggilnya “Dik Tampi sayaaang,”. Sebaliknya Tampi pun punya panggilan mesra untuk Rokim. “Mas….Rokiiim,”
Wuidiiiih syahdunya…… Ono Ono Wae to Kim Rokim    Via .**JPNN/redaksi**

Baca Juga :


 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Item Reviewed: Perjaka 24 Tahun Nikahi Janda 67 Tahun Rating: 5 Reviewed By: robby sunatra